Kunjungan Dedi Mulyadi ke salah satu wilayah di Jawa Barat mendadak ricuh setelah sekelompok warga membentangkan spanduk penolakan. Dedi yang awalnya datang untuk menyerap aspirasi masyarakat, tampak terkejut melihat aksi tersebut.

Dalam video yang beredar, warga mengangkat spanduk bertuliskan kritik dan penolakan terhadap kehadiran mantan Bupati Purwakarta itu. Beberapa warga bahkan meneriakkan yel-yel yang menyulut suasana. Dedi mencoba menenangkan situasi, tetapi emosinya tak terbendung saat salah satu warga melontarkan tuduhan personal.

“Saya datang ke sini untuk mendengar keluhan masyarakat, bukan untuk disambut dengan caci maki,” ujar Dedi dengan nada tinggi. Ia menegaskan bahwa niatnya murni untuk membantu, bukan mencari sensasi atau kepentingan politik semata.

Meski demikian, Dedi tetap melanjutkan dialog dengan warga yang bersedia berdiskusi secara terbuka. Ia duduk bersama tokoh masyarakat dan mendengar berbagai keluhan, mulai dari infrastruktur rusak hingga persoalan bantuan sosial yang tidak merata.

Di tengah ketegangan, aparat keamanan berjaga agar situasi tetap kondusif. Perangkat desa juga turun tangan menenangkan warga agar tidak medusa 88  terpancing emosi.

Insiden ini menyoroti meningkatnya tensi politik jelang tahun politik. Aksi spanduk menjadi simbol ketidakpuasan sebagian warga, namun juga memperlihatkan pentingnya ruang dialog yang sehat.

Dedi Mulyadi menegaskan komitmennya untuk tetap turun ke lapangan meski menghadapi tantangan. “Kalau rakyat marah, saya harus hadir. Bukan malah menghindar,” tegasnya sebelum meninggalkan lokasi.

By admin